Kamis, 05 November 2009

Dalam Perenungan 2 (Badai)

Malam itu, langit kesepian tak ditemani rembulan lagi bintang..hanya awan-awan putih yang melayang mendayu-dayu. Angin tak biasanya berlarian kacau, daun-daun pun banyak yang berguguran. Suhu yang semakin turun, mulai terasa kulit dengan pori-pori yang terbuka lebar. Suara-suara guntur dan gemuruh mulai berceloteh, bahkan kadang berteriak. Badai akan segera datang, tapi..bukankah ini musim kemarau ?Butir-butir air mulai jatuh bebas, menerpa apa yang ada di bawahnya. Tak kenal wujud.

Semakin lama, butir-butir itu membesar. Langit pun tak segan-segan menggelontorkan berkubik-kubik air..bumi sedang menangis..semua basah, sang alif kecil pun menggigil kedinginan..dia tak bisa beranjak berteduh, kakinya lemah…lama-lama hujan semakin membesar, disertai guruh dan guntur yang melengking..angin pun sepertinya ikut-ikutan, turut meramaikan suasana. Sang alif kecil semakin menggigil..lihat, dia mulai merangkak..terus merangkak…tangannya mengapai-gapai…wajahnya basah, seperti menangis…

Badan kecilnya ringkid, merangkak terus merangkak. Tempat berteduh masih jauh. Pos Kamling yang reot…sebentar lagi dia sampai. Teruslah berjuang wahai pejuang….

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Semangat!!!